Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2014

The Man Who can't be Moved (note)


Meskipun aku menangis. 
Aku akan tetap menari untukmu. 
Menghentakkan kaki, dan mengeluarkan bunyi ketukan dari sepatuku. 
Lelaki yang memegang tanganmu mungkin akan mengataiku gila. 
Aku tak peduli aku tetap menari.
Sambil menangis. Aku sesekali melihat kearah matamu. 
Sambil tersenyum aku berusaha menutupi rasa kacau ku. 
Sementara orang orang sibuk tertawa. 
Kau sibuk diam memperhatikan aku yang menangis.


Dan saat semua orang perlahan pergi satu persatu. 
Lelaki disampingmu mulai berangsur merasa bosan melihatku. 
Aku melihatnya berbisik mengajakmu pergi ke tempat lain. 
Namun.. Hatiku semacam retak saat kau menolaknya dan menyuruhnya pergi terlebih dahulu. 
Aku mendengarnya.
Dan hatiku semakin babak belur. 
Bukan kau membalas dengan bisikan, kau katakan dengan jelas. 
Agar jelas di telingaku. Kau katakan kau suka tarianku. 
Aku semakin bersemangat menari. 
Tapi tak lupa air mataku semakin deras mengalir. 
Detak jantungku mengikuti irama dari sepatuku. 
Sementara udara dingin mulai menyeruak, kau merapatkan kardigan cream yang kaupakai. 
Langit mulai menghitam, dan petir sesekali menunjukkan keangkuhannya..
Kau mulai menangis melihatku. 
Hatiku teriris. 
Apakah kau merasa iba denganku? Aku tak ingin dikasihani. 
Terlebih, aku tak ingin melihatmu menangis. Bukan ini yang aku inginkan!


Perlahan butiran air langit mulai turun.


Membasuh muka ku yang sedari tadi basah karena air mata. 
Sementara ia memilih bersahabat dengan air matamu. Dengan mengimbangi derasnya. Dan menyamarkan paras cantikmu. 
Lampu taman yang menerangiku sesekali meredup. 
Ketukan dari sepatu ku mulai melemah.
Lututku terasa berat melihat mu menangis. 
Aku menghentikan tarianku dan memfokuskan mataku pada wajahmu. 
Sesekali air mata pria cengeng ini masih jatuh. 
Hatiku semakin remuk ketika mendengar suara tangismu. "Kemarilah" ucapku membuka keheningan diantara kita. 
Aku perlahan membuka kedua lenganku. 
Kuharap kau masih sudi berjalan kearahku dan menerima pelukan yang aku tawarkan. 
Tapi, lagi-lagi. Kau lebih memilih berjalan mundur. Meninggalkan aku. 
Sendirian.

Sabtu, 08 Desember 2012

Gadis Ranting




Gadis Ranting berwarna coklat ber-bola mata transparan terbang terbawa angin.
Dia tidak Sendirian, dia bersama angin.
Tapi yang dilihatnya salah.
Dia sendirian.
Dia hanya terbang terbawa nafasnya.

Dia terbang melewati celah pepohonan pinus di hutan basah.
Menyapa ilalang di atas hamparan savana.
Mengitari rawa-rawa.
Dan pulang mencari ibunya.

Pada saat musim penghujan, Tubuhnya berubah menjadi coklat tua.
Tubuhnya wangi seperti cendana.
Dan bola matanya berubah menjadi hijau tosca.
Gadis Ranting begitu cantik sekarang. Sepertinya dia sudah dewasa.

Tapi banyak pula yang dia rindukan.
Semakin hari semakin dia menyadari bahwa dia kehilangan sesuatu yang sangat dia butuhkan.
Dia kehilangan 'angin'.
Tidak ada lagi yang membawanya terbang.


Gadis Ranting meringkuk ketakutan di bawah pohon filicium tua.

Halilintar menyambar kubangan air besar di tepian hutan.
Gadis Ranting begitu ketakutan.
Dia sadar dia sendirian sekarang.
Bahkan dia sekarang tak tau harus menangis ketakutan atau menangis karna sendirian.

Senin, 03 Desember 2012

Rabindranath Tagore - Kapal kapal kertas




Hari demi hari kulabuhkan kapal-kapal kertasku, 
Satu demi satu ke arus berlari menderas melaju.

Dengan huruf-huruf besar dan tinta hitam, namaku
kutulis di kapal-kapal kertas itu, juga nama desaku.

Aku berharap, ada seseorang di negeri yang asing 
menemu kapal-kapal kertas itu dan tahu siapa aku.

Kapal-kapal kecilku, kusarati dengan bunga shiuli dari
taman kami, dan berharap fajar hari yang mekar ini
akan terbawa selamat sampai di negeri malam nanti.

Kuluncurkan kapal-kapal kertasku, kutatap angkasa,
dan kulihat awan kecil membentangkan layar putihnya.

Aku tahu, kawan bermainku di angkasa itu, mengirim
awan-awan turun, untuk beradu pacu dengan kapalku.

Ketika malam datang, aku benamkan wajah di lengan dan
bermimpi: kapal-kapal kertasku terbang di antara bintang.

Peri-peri tidur berlaya di antara kapal-kapal kertasku,
dan muatannya adalah keranjang yang penuh mimpi.

Thanks To : Fajar Deandra Mahardika